Minggu, 05 Juli 2020

Lembaran kertas kering

Ibadah 
  • Taqwa
  • Akhlak mulia
  • Dalam bermuamalah
Sekecil apapun ibadah tak akan terwujud kecuali Allah yang menolong dan menunjukkan.
Koreksi niat dan kesungguhkan kita dalam ibadah.
Contoh : ketika berat untuk solat witir, coba kita lihat seberapa iman kita. Seberapa sedih kita melewatkannya?
Dua rakaat sebelum subuh lebih baik dari pada dunia seisinya, sudahkan kita amalkan? Padahal kita bekerja keras untuk mengais serpihan-serpihan dunia tersebut.

Kita harus peka dengan visi kita. Allah tidak melihat rumah, harta, maupun fisik kita. Yang Allah lihat adalah hati dan iman kita.

Mengapa berat? Dengan belajar/menuntut ilmu apapun akan menjadi ringan. 
Mengapa para sahabat sangat ringan/mudah untuk beramal? Itulah keimanan.

Apabila kita mengetahui faedah-faedah suatu amalan, maka kita akn tergerak untuk melaksanakannya, contohnya:
  1. "Takutlah kalian dengan neraka walau dengan setengah biji kurma" (Sedekah senilai setengah biji kurma)
  2. Selama menunggu solat kita dicatat sebagai orang yang solat dan didoakan malaikat
  3. Tidakkah engkau sujud sekali kecuali Allah akan menaikkan derajatmu dan menghapus satu kesalahanmu. Keadaan paling dekat antara hamba dan Rabbnya adalah ketika sujud
  4. Rasulullah solat ketika berat dalam suatu urusan
Tidak ada para sahabat yang merasa ibadahnya banyak diterima. Ujub itu sangat berbahaya. Semakin bertaqwa dan beriman maka akan semakin takut, Tapi rasa khouf (takut) itu diiringi dengan raja' (harap)
"Jangan-jangan amalku tidak diterima,"
Seperti para tabiin yang jujur keimanannya, mereka takut dosa sekecil apapun.

Seorang yang beriman melihat dosanya seperti tebing yang bisa menimpanya.
Sedangkan orang yang munafiq melihat dosanya bagai lalat.

Mujahadah
Kesungguhan ibadah tak akan terwujud selain dengan ikhlas.
Tak ada jaminan keamanan masuk surga maupun jaminan keselamatan dari neraka. Ajal itu dekat. Mati tidak menunggu taubat, tidak menunggu kita menyiapkan diri kita.
Maka bersungguh-sungguhlah dalam ketaatan.

Para sahabat-Allah telah meridhoi mereka-adalah generasi islam terbaik. Tidak ada yang bisa nmenandingi sedekah mereka. Walaupun segunung uhud emas dibandingkan dengan gandum mereka.

Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya. Tak boleh berandai-andai mati.
Umur panjang = tak bisa dipastikan
Ketaatan = bisa diusahakan

Siapa yang ingin dilapangkan rizki dan dipanjangkan umur hendaknya menyambung silaturahmi.

Doa (8 Februari 2020)
Doa adalah senjata untuk menghadapi perkara, sebab paling kuat dalam menolak hal yang tidak disukai dan mengejar hal yang diinginkan / dicita-citakan. 
Salah satu adab berdoa adalah merinci permintaan, karena Allah senang jika hamba-Nya meminta.
Doa penting yang diajarkan Rasulullah

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ خَطِيْئَتِيْ، وَجَهْلِيْ، وَإِسْرَافِيْ فِي أَمْرِيْ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ. اللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ جَدِّيْ وَهَزْلِيْ، وَخَطَئِيْ وَعَمْدِيْ، وَكُلُّ ذلِكَ عِنْدِيْ، اللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ، وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ، وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ، وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
Terjemahan: Dari Abu Musa al Asy’ari Radiyallahu’anhu ia berkata: “Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam biasa membaca doa: Allahummaghfir li khathi’ati, wa jahli, wa israfi fi amri, wama anta a’lamu bihi minni. Allahumagh fir li jiddi wa hazli. Wa khatha’i wa ‘amdi wa kulla dzalika ‘indi. Allahumaghfir li ma qaddamtu wama akhkhartu, wama asrartu, wama a’lantu, wama anta a’lamu bihi minni. Anta al muqaddamu wa anta al mu’akhkhiru wa anta ‘ala kulli syai’in qadir. 

(Ya Allah, ampunilah dosaku, kebodohanku, berlebih-lebihanku dalam urusanku, dan apa-apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Ya Allah, ampunilah aku karena kesungguhanku, senda gurau/kelalaianku, kesalahanku, dan kesengajaanku. Semuanya itu memang ada padaku. Ya Allah, ampunilah aku dari apa yang telah dan yang akan aku lakukan, apa yang aku sembunyikan, apa yang aku tampakkan, dan apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Engkau lah Tuhan Yang Maha Mendahulukan dan Maha Mengakhirkan. Dan Engkau lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu).” 
(Muttafaqun ‘alaih).(Shahih) HR. Bukhari, no. 6398. dan Muslim, no. 2719. 

Allahummaghfir li khathi’ati : Ya Allah ampunilah segala dosaku
wa jahli : kebodohanku (dosa yang disengaja)
wa israfi fi amri : berlebihan-lebihan dalam urusanku (perilakuku yang melampaui batas)
wama anta a’lamu bihi minni : dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui tentangnya daripada aku

Allahumagh fir li jiddi wa hazli wa khatha’i wa ‘amdi wa kulla dzalika ‘indi : Ya Allah, ampunilah aku karena kesungguhanku, senda gurau/kelalaianku, kesalahanku, dan kesengajaanku. Semuanya itu memang ada padaku/berasal dari sisiku.

Allahumaghfir li ma qaddamtu wama akhkhartu, : Ya Allah, ampunilah dosaku dari apa yang telah dan yang belum kulakukan/akan datang
Arti "yang akan datang":
1. Ia tak jatuh dalam dosa di sisa umurnya
2. Allah tidak menghukumnya dari dosa yang akan datang. Kenapa? Karena Allah membimbingnya untuk langsung bertaubat.

wama asrartu, wama a’lantu, wama anta a’lamu bihi minni : apa yang aku sembunyikan, apa yang aku tampakkan, dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku.

Anta al muqaddamu wa anta al mu’akhkhiru wa anta ‘ala kulli syai’in qadir. : Engkau lah Tuhan Yang Maha Mendahulukan dan Maha Mengakhirkan. Dan Engkau lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu
Al muqaddamu : mengunggulkan sebagian makhluk di antara yang lain 
Al muakhkhiru : mengakhirkan sebagian makhluk dengan Engkau membiarkan / menjauhkan mereka dari hidayah

Istighfar
Istighfar : meminta ampun kepada Allah
Ampunan Allah : penjagaan dari jeleknya dosa (menggugurkan hukuman/Allah tidak akan menghukum)
Al Maghfiroh dan Al Afuw, perbedaannya:
1. Al Maghfiroh : Allah menutupi dosa
2. Al Afuw : menghilangkan/menghapus bekas dosa. Kadang dihapusnya dosa itu terjadi setelah diberikan hukuman oleh Allah.

Adab memohon ampun
1. Memulai istighfar dengan pujian kepada Allah seperti sayyidul istighfar (istighfar yang paling tinggi)
2. Merendahkan diri (tawadhu) seperti dengan mengakui dosa.

Sebab datangnya ampunan Allah : 
  1. Memohon kepada Allah dengan berharap. Karena doa diperintahkan Allah dan dijanjikan dikabulkan oleh Allah. Syarat saat doa:
    1. Kalbu harus hadir, konsentrasi (jangan memikirkan hal lain)
    2. Mengharap pengkabulan dosa
    "Jika kalian memohon pada Allah mohonlah dengan yakin bahwa Allah akan mengijabahi. Allah tidak akan mengabulkan dari kalbu yang lalai.
  2. Al istighfar. Meminta ampun kepada Allah dan berhenti dari dosa tersebut. Jika meminta maaf dengan lisan namun qolbu masih buruk (maka ini hanya doa, bukan istighfar.) Seorang yang meminta ampun tapi masih melakukan dosa seperti orang yang mengolok-ngolok rabbnya.
  3. At tauhid. Memberikan ibadah hanya kepada Allah. Tauhid adalah sebab terbesar datangnya ampunan Allah. 
“Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau tidak berbuat syirik pada-Ku dengan sesuatu apa pun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi itu pula.” (HR. Tirmidzi no. 3540. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib.

Surat An-Nisa' Ayat 48. Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

Maka, kita harus bersyukur dengan nikmat tauhid yang Allah berikan.

Jamawi' al-Kalim
Yaitu kalimat pendek dengan makna yang luas/dalam.
Aku diutus dengan membawa Jawami’ al-Kalim… (HR. Bukhari 2977).
Contohnya saat nabi berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الأَمْرِ ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ ، وَأَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَلِسَانًا صَادِقًا وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ
Allohumma inni as-alukas tsabata fil amri wal ‘azimata ‘alar rusydi, wa as-aluka mujibati rahmatik, wa azaima maghfiratik, wa as-aluka syukro ni’matika wa husna ‘ibadatika, wa as-aluka qolban saliman wa lisanan shodiqan wa as-aluka min khoiri ma ta’lamu wa a’uzu bika min syarri ma ta’lamu wa astaghfiruka lima ta’lamu innaka anta ‘allamul ghuyub.

“Wahai Allah, sungguh aku bermohon pada-Mu akan ketetapan pada sesuatu urusan dan kemauan pada jalan yang benar. Aku mohon pada-Mu  segala yang mendatangkan rahmat-Mu, segala yang menimbulkan ampunan-Mu, syukur atas nikmat-Mu dan kebagusan ibadah kepadaMu. Aku mohon pada-Mu hati yang selamat, lisan yang jujur. Aku mohon kepada-Mu kebaikan yang Engkau ketahui dan berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang Engkau ketahui. Aku mohon ampun kepada-Mu atas dosa yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau mengetahui perkara yang ghaib.”

Allohumma inni as-alukas tsabata fil amr : Aku memohon kepada-Mu akan ketetapan pada suatu urusan. Makna: meminta untuk dikokohkan (1) di atas agama Allah, (2) diberi taufik kemudahan istiqamah.

wal ‘azimata ‘alar rusyd : dan kemauan pada jalan yang benar. Makna: kemantapan hati di atas bimbinganmu, mencakup semua kebaikan di dunia dan akhirat (Allah memudahkan kita untuk melaksanakan hal yang bermanfaat di dunia dan akhirat)

wa as-aluka mujibati rahmatik : meminta sebab-sebab yang bisa mendatangkan rahmat Allah (masuk Al Jannah). Contohnya: dimudahkan untuk berdzikir, tilawah, menuntut ilmu.

wa azaima maghfiratik : meminta sebab-sebab yang bisa mendatangkan maghfirah (ampunan)

wa as-aluka syukro ni’matik : meminta agar senantiasa mensyukuri nikmat Allah. Jika kita dapat mensyukuri nikmat Allah, maka ini juga termasuk nikmat yang harus disyukuri.
Mensyukuri nikmat Allah dengan cara:
1. Hati : meyakini bahwa nikmat datangnya dari Allah
2. Lisan : memuji Allah / menyebutkan nikmat itu
3. Anggota badan : memanfaatkannya untuk ibadah

wa husna ‘ibadatik : memohon ibadah yang baik.

wa as-aluka qolban saliman : memohon hati yang selamat (bersih dan suci), yaitu hati yang tidak menyekutukan Allah dan bersih dari penyakit hati.

wa lisanan shodiqan : meminta lisan yang jujur

wa as-aluka min khoiri ma ta’lam, wa a’uzu bika min syarri ma ta’lam : Aku mohon kepada-Mu kebaikan yang Engkau ketahui dan berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang Engkau ketahui

wa astaghfiruka lima ta’lamu, innaka anta ‘allamul ghuyub : Aku mohon ampun kepada-Mu atas dosa yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau mengetahui perkara yang ghaib (bertawasul dengan sifat Allah)

Inilah doa yang diajarkan Rasulullah kepada Syaddad bin Aus.

Bersyukur (19 Februari 2020)
Nikmat kesehatan adalah nikmat yang besar dan harus kita syukuri. Salah satu usaha bersyukur adalah dengan thalibul ilm atau menuntut ilmu yang merupakan kunci untuk membersihkan hati.

یَوۡمَ لَا یَنۡفَعُ مَالٌ وَّ لَا بَنُوۡنَ
(Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak2 tidak berguna

إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.
As-Syuara: 88-89

Inilah dorongan untuk memperbanyak amal kebaikan di akhir umur. Ajal itu misteri. Mati tak menunggu kita bertaubat danbisa datang kapan saja. Perbanyak ketaatan sehingga kita dalam kondisi siap.
Rasulullah yang sudah taat dan istiqamah saja masih diperintahkan untuk memperbanyak ketaatan (seperti di surat An-Nasr), apalagi kita??
"maka bertasbihlah dalam dengan Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat." An-Nasr: 3

Ingatlah bahwa amalan itu sesuai dengan penutup. 
'Penutup' sulit kita jadikan baik secara spontan apabila kita belum membiasakan jiwa kita untuk taat.
karena jiwa tabiatnya adalah berontak.
Kalau tidak kita biasakan pada ketaatan maka akan sulit berakhir dengan ketaatan. Karena akhir yang baik hanya bisa tercapai dengan pembiasaan. Jika seseorang telah biasa ikhlas dan sabat, maka dia akan mati di atas kebiasaan itu.

Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (Kematian). Orang cerdas adalah orang yang mempersiapkan kematian.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Ali Imran: 102)

Intermezzo
Wahyu dari Allah semakin banyak yang turun menjelang Rasulullah wafat. Ketika turun wahyu, hal itu membuat iman semakin naik dan ibadah makin kuat.
Ibn Abbas mengatakan bahwa Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan dengan kebaikan.
Bahkan beliau lebih dermawan dari angin yang berhembus.
Keadaan Rasulullah saat paling semangat dan baik ibadahnya adalah ketika Jibril membacakan Al-Qur'an. Saat Ramadhan, setiap malam jibril membaca Qur'an bersama Rasulullah dan di pagi harinya Rasulullah sangat ringan untuk beramal.

"Akan dibangkitkan seorang hamba di atas kondisi kematiannya"
Maka kita harus selalu meminta kepada Allah agar husnul khotimah dan berhusnudzon kepada Allah, karena, "Aku sesuai prasangka hamba-Ku."
Berprasangka baik akan membuat Allah memberi kebaikan. Orang yang berbaik sangka maka akan melakukan ketaatan dan beribadah, dia tau dengan amalan itu Allah akan memberi ampunan dan pahala, sehingga ia semakin beribadah.
Kiat ringan melakukan ketaatan adalah dengan banyak ingat mati.
Apakah kita siap jika ajal menjemput? Setiap hari ia semakin mendekat...
Memang setiap amalan ada masa semangatnya, dan lemahnya.. ketika lemah, maka celakalah orang yang beralih pada selain sunnah... tetaplah berada di atas sunnah dan berpegang teguh di atasnya.

Wallahu a'lam bisshowab.
Catatan ta'lim dari ustadz Farhan, ustadz Qomar, asatidz dari Pondok Salaf, Darul Atsar Kedu, Temanggung. Semoga Allah menjaga mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bismillah Bookmark

buletin muslimah  https://www.dropbox.com/sh/ukk89cfipvfq6xf/AABVVzwBeoEvmoXUNboeeNlda?dl=0 buletin rem https://www.dropbox.com/sh/g4yq32zc2...